Nama lokal     :  Ikan tunuk, senul, halu – halu, tangkuloh, langsar, dan leres

Nama inggris  :   The Great Barracuda Fish

Nama latin      :  Sphyraena barracuda

Ukuran            :  180 cm

Penyebaran   :  Distribusi di alam hampir merata di pantai – pantai Indonesia, Teluk Meksiko dan       Laut Karibia serta timur Samudera Atlantik, Indo-Pasifik, dan Laut Merah.

Habitat    :  Yang masih kecil biasanya berada di sekitar sungai dekat muara,     sedangkan ikan   besar berada di laut. Merupakan ikan yang berasosiasi dengan daerah karang karena mencari makan ikan – ikan di sekitar terumbu karang. Biasa hidup di pantai karang (tebing karang di tepi pantai).

Makanan    :  Ikan ini makan ikan lainnya, cumi, atau udang dengan menyergap dan   mengejarnya. Selain memakan ikan permukaan juga memangsa ikan dasar

Klasifikasi Ilmiah :           Kerajaan  : Animalia                   Kelas : Actinopterygii
Filum        : Chordata                                  Ordo : Perciformes
Famili       :  Sphyraenidae                           Genus: Sphyraena

Deskripsi Umum :

Barakuda besar memiliki tubuh ramping yang bulat di bagian tengah. Bagian atas kepala antara mata hampir datar dan mulutnya besar, berisi banyak gigi tajam yang besar dan rahang bawah proyeksi. sirip dada meluas ke asal sirip perut. Barakuda termasuk ikan buas bilamana dilihat dari deretan giginya yang tajam. Merupakan ikan bentopelagik atau hidup hampir di semua massa air sehingga selain memakan ikan permukaan juga memangsa ikan dasar. Kadang – kadang ditemukaan hidup secara bergerombol, tetapi lebih sering hidup soliter atau berpasangan Ikan dewasa mempunyi bercak hitam pada bagian belahan badan di bawah gurat sisi.

 

Nama lokal :  Barracuda air tawar

Nama inggris :  Freshwater barracuda

Nama latin Hujeta Gar (Ctenolucius hujeta)

Ukuran  :  Panjang tubuh 25 cm di aquarium dan 35 cm di alam bebas

Penyebaran  :  di sungai Amerika Selatan terutama di Kolombia, Panama dan Venezuela

Habitat            : di akuarium dan di alam.

Makanan  : Cacing, ikan, serangga besar dan pakan alami seperti artemia, rotifers dan  kutu air

Klasifikasi  Ilmiah

Kingdom   : animalia

Phylum  : chordata

Class  :   Actinopterygii

Ordo   :  Characiformes

Family   :  Ctenoluciidae

Genus  : Ctenolucius

Spesies : Ctenolucius hujeta

Deskripsi Umum :

Hujeta Gar merupakan ikan yang mempunyai tubuh ramping memanjang dan moncong yang panjang. Hujeta Gar yang mempunyai warna tubuh cokelat keemasan atau kebiruan (tergantung pencahayaan) dan sirip transparan. Ekor berwarna transparan, bercabang dan mempunyai bintik hitam pada pangkalnya. Hujeta Gar merupakan predator yang mempunyai rahang atas sedikit lebih panjang dibanding rahang bawahnya.

 

Nama lokal :  Senuk

Nama inggris :  pickhandle barracuda

Nama latin Sphyraena jello

Ukuran  :         Panjang maksimum 125 cm total, biasanya sampai 80 cm

Penyebaran  : Iklim tropis dan subtropis Indo-Pasifik Barat dari Afrika Selatan, New Caledonia dan Vanuatu. Di Australia diketahui dari pantai sentral Australia Barat sekitar utara tropis dari negara dan selatan ke pantai selatan New South Wales.

Habitat            : Menghuni teluk, muara, dan laguna batin keruh. kedalaman kisaran 20 – 200 m

Makanan   : ikan-ikan kecil dan cumi-cumi.

Pemanfaatan:  Ditangkap dengan menggunakan trawl, set jaring, jaring insang, dan peralatan lainnya memancing. Dijual dalam bentuk segar, beku atau kering asin.

 

Deskritif umum:

Bentuk tubuh bulat memanjang dengan warna abu-abu keperakan, garis hitam vertikal pada bagian tengah tubuh dan memiliki ekor berwarna kuning.

 

Klasifikasi Ilmiah :    Species  :   jello                         Genus  :   Sphyraena

Family:  Sphyraenidae            Ordo    :  Perciformes

Class   :  Actinopterygii          Subphylum: Vertebrata

Phylum:  Chordata                  Kingdom: Animalia

 

 

 

Nama lokal :  –

Nama inggris :  Guinea barracuda

Nama latin     Sphyraena afra

Ukuran           :  205 cm

Penyebaran    :  Timur Samudra Atlantik

Habitat          : Di laut dengan kedalaman 0-75 m

 

Makanan        :   ikan-ikan kecil, udang dan cumi-cumi

Deskriptif Umum  :   Memiliki tubuh ramping dan berwarna gelap. Memiliki 6 Duri   punggung, 9 duri punggung lunak, 2 Duri Anal dan 9 Sirip dubur lunak.

Klasifikasi :   Kingdom: Animalia       Phylum: Chordata

Subphylum :Vertebrata  Superclass : Gnathostomata

Ordo : Perciformes        Family : Sphyraenidae

Genus : Sphyraena        Species : Sphyraena afra

 

Nama lokal    :  Barakuda sirip hiu

Nama inggris :  Shap fin barracuda

Nama latin     :  Sphyraena acutipinnis

Ukuran           :  80 cm

Penyebaran    :  Indonesia-Pasifik Barat.

Habitat          : Berasosiasi dengan karang

Makanan       : ikan, udang dan cumi-cumi

Deskriptif Umum:  Memiliki 6 Duri Punggung, 8-9 duri Punggung Lunak, 2 Duri dubur,8 Sirip dubur Lunak. Tubuhnya terdapat garis hitam di sisi bawah.

Klasifikasi Ilmiah  :

Kingdom :  Animalia              Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata          Superclass : Gnathostomata

Class : Actinopterygii             Subclass : Neopterygii

Ordo : Perciformes                  Family : Sphyraenidae

Genus : Sphyraena                  Species : Acutipinnis

 

 

Nama lokal     : Chevron Barracuda

Nama inggris :  Blackfin Barracuda

Nama latin     Sphyraena qenie

Ukuran           :   170 cm

Penyebaran    :  Spesies ini hidup di perairan laut tropis Indo-Pasifik. Di Australia diketahui dari perairan tropis Australia Barat dan Queensland

Habitat          :  pesisir dan lautan dalam, di dekat bagian bawah ke permukaan, dan sekitar terumbu.

Makanan       :   ikan-ikan kecil dan cumi-cumi

Deskriptif Umum  :

Berwarna pucat dengan garis-garis hitam. Memiliki 6 duri Punggung,9 duri Punggung Lunak, 2 Duri dubur,7-9 Sirip dubur Lunak. Banyak garis gelap melintasi garis rusuk pada tubuh, setiap batang miring di bagian atas, tapi hampir vertikal di bawah, sirip ekor kehitaman.

Konsumsi  :  Biasanya dalm bentuk fillet atau steak.
Klasifikasi Ilmiah  :      Species  :  qenie                     Genus  :   Sphyraena
Family   : Sphyraenidae        Ordo   :  Perciformes
Class     : Actinopterygii        Subphylum : Vertebrata
Phylum : Chordata                Kingdom  :  Animalia

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Lucas barracuda

Nama latin     :  sphyraena lucasana

Ukuran           :  mencapai 76 cm

Penyebaran    :  Timur Tengah Pasifik: Teluk California.

Habitat          :  ikan ini adalah spesies pelagis neritic, ditemukan pada kedalaman 25 m.

Makanan       : ikan-ikan kecil dan cumi-cumi

Deskriptif Umum :  Memiliki tubuh ramping memanjang, kepala panjang dengan moncong lancip panjang, mulut besar dengan rahang menonjol, rahang dan langit-langit mulut dengan banyaknya  gigi tajam panjang ukuran yang tidak sama.

Klasifikasi       Kingdom : Animalia               Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata          Ordo : Perciformes

Family : Sphyraenidae            Genus : Sphyraena

Species : Sphyraena lucasana

 

 

Nama lokal    :  Barracuda panah

Nama inggris :  Shortfin Pike/snook

Nama latin     :  sphyraena novaehollandiae

Ukuran           :  maksimum 100 cm

Penyebaran    :  Indo-Pasifik, Papua Nugini, Australia dan Selandia Baru

Habitat          :  Daerah karang, pasir, rumput laut, perairan lepas pantai di perairan Australia selatan dengan kedalaman sampai 20 meter

Makanan       : ikan-ikan kecil dan udang renik

Deskriptif Umum  : Memiliki 6 Duri punggung , 9 duri punggung lunak, 2 Duri Anal, 8 Sirip dubur lunak. Tubuhnya memanjang dengan dua sirip punggung pendek yang sesuai dengan posisi  ventral dan dubur.

Klasifikasi  :    Kingdom  :   Animalia                        Phylum  :  Chordata

Class        :   Actinopterygii     Ordo       :  Perciformes

Family      :  Sphyraenidae       Genus     :  Sphyraena

Species     : S. novaehollandiae

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Yellowmouth barracuda

Nama latin     :  sphyraena viridensis

Ukuran           :  65 cm

Penyebaran    :  Pantai Mediterania Israel

Habitat          :   Kolom air, biasanya di zona pelagis, ikan kecil di perairan dangkal.

Makanan       :  Ikan, cumi dan krustasea

Komersial penting: Tertangkap dalam jumlah kecil menggunakan pukat pantai.

Deskriptif Umum   :  Tubuh memanjang, rahang memanjang, Tidak ada sisik, tubuh di atas berwarna gelap dan di bawah keperakan.

Klasifikasi:             Kingdom  :  Animalia                  Phylum   :  Chordata
Subphylum :  Vertebrata               Superclass  : Gnathostomata
Class       :   Osteichthyes              Ordo :  Perciformes
Suborder :  Mugiloidei                  Family   : Sphyraenidae
Genus    :   Sphyraena                   Species   :  Sphyraena viridensis

 

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Japanese barracuda

Nama latin     :  sphyraena japonica

Ukuran           :  35 cm

Penyebaran    :   Tersebar di Pasifik Barat dari Southern Jepang ke Laut Cina Selatan. Ini adalah spesies yang sangat umum di Taiwan

Habitat          :  Ditemukan di dekat pantai

Makanan       :   Ikan kecil dan udang.

Konsumsi     :  Dalam bentuk ikan segar.

Deskriptif Umum :  Badan memanjang, sub silinder atau sedikit dikompresi. Kepala panjang, , bersisik pada sisi dan posterior di atas. Mulut hampir horisontal, besar,  gigi besar, tajam, pipih atau kerucut.

Klasifikasi :  Kingdom :  Animalia                 Phylum :  Chordata

Class :    Actinopterygii            Ordo   :   Perciformes

Family :  Sphyraenidae             Genus :  Sphyraena

Genus :   Sphyraena                  Spesies :  Sphyraena japonica

 

 

 

 

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Yellowstripe barracuda

Nama latin     :  sphyraena chrysotaenia

Ukuran           :  20-25 cm

Penyebaran    :  Indo-Pasifik, dari Laut Merah, Teluk Persia dan Afrika Timur sepanjang Samudera Hindia ke Australia dan Jepang

Habitat          : Kolom air, zona pelagis dan domersal.

Makanan       :   Ikan, cumi-cumi.

Komersial penting : Tertangkap dalam jumlah yang cukup besar di perairan pantai dengan purse seins,  jaring dan pukat.

Deskriptif Umum  :  Tubuh memanjang, rahang memanjang , gigi taring yang kuat seperti, Preoperculum bersisik, lebih rendah posterior tepi cekung. Berwarna coklat abu-abu di atas, bawah keperakan, ujung pertama sirip punggung dan sirip ekor kehitaman, punggung kedua, sirip dada dan sirip ekor kekuningan.

Klasifikasi  :                Kingdom :  Animalia              Phylum  :  Chordata
Subphylum  : Vertebrata         Superclass  :  Gnathostomata
Class :  Osteichthyes               Ordo  :  Perciformes
Suborder :  Mugiloidei            Family :  Sphyraenidae
Genus  :  Sphyraena                Species  :  Sphyraena chrysotaenia

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Pelican barracuda

Nama latin     :  sphyraena idiastes

Ukuran           :  91 cm

Penyebaran    :   Tersebar di Teluk California

Habitat          : Berasosiasi dengan karang. Spesies ini bersifat pelagis yang ditemukan di perairan tropis dan subtropis.

Makanan       : Ikan kecil

Deskriptif Umum :  Silindris, relatif ramping,  kepala panjang, moncong lancip, mulut besar, horisontal. Ikan ini memiliki warna abu-abu di atas, putih di bawah, sirip abu-abu dengan pinggiran gelap.

Klasifikasi   :   Kingdom  :  Animalia             Phylum  :  Chordata

Class         :  Actinopterygii                Ordo        :  Perciformess

Family       :  Phyraenidae                   Spesies    :  Sphyraena idiastes

 

Nama lokal    :   –

Nama inggris :  Bigeye Barracuda

Nama latin     :  sphyraena forsteri

Ukuran           :  65 cm

Penyebaran    : Afrika Timur, Asia Tenggara dan Marquesas dan Masyarakat kepulauan

Habitat          : Terumbu Karang

Makanan       : ikan,udang dan cumi-cumi.

Konsumsi      : ikan segar,beku dan asin,

Deskriptif Umum :   Bentuknya memanjang, mata besar, dan berwarna kehijauan abu-abu, memiliki sisi perak, bercak hitam pada pangkal sirip dada

Klasifikasi  :    Species : sphyraena forsteri                Genus  :  Sphyraena

Family  : Sphyraenidae                       Class    : Actinopterygii

Subphylum : Vertebrata                      Phylum : Chordata

Kingdom  : Animalia

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Southern sennet

Nama latin     :  sphyraena picudilla

Ukuran           :

Penyebaran    :  Di perairan pesisir dekat terumbu, meskipun lebih umumnya berada di dasar berlumpur

Habitat          :  Samudra Atlantik, Florida, dan Bahama selatan ke Uruguay.

Makanan       :

Konsumsi     :  Kadang-kadang digunakan sebagai makanan ikan, dan dipasarkan baik segar atau beku

Deskriptif Umum  :  Memiliki tubuh memanjang, , rahang besar. Rahang bawah menonjol sedikit dari rahang atas.  Memiliki 6 duri punggung, 9 duri punggung lunak, 2 Duri Anal, 9 Sirip dubur lunak.
Klasifikasi   :  Kingdom  :  Animalia              Phylum   :   Chordata

Class : Actinopterygii              Ordo    : Perciformes

Family : Sphyraenidae             Genus : Sphyraena

Species :  sphyraena picudilla

 

 

Nama lokal    :   –

Nama inggris :   Northern Sennet

Nama latin     Sphyraena borealis

Ukuran           :  46 cm

Penyebaran    :  Di bagian barat Samudera Atlantik

Habitat          :  Di Perairan berkarang

Makanan       : Ikan, udang dan cumi-cumi

Deskriptif Umum  :   Sennet Utara yang berwarna pucat, punggung, dan bagian perut putih keperakan. Mereka juga memiliki beberapa bercak kehitaman di sepanjang garis lateral yang mereka. memiliki tubuh memanjang, kepala tombak-seperti, dan rahang besar.
Klasifikasi   :              Kingdom  :  Animalia             Phylum   :   Chordata

Class : Actinopterygii              Ordo    : Perciformes

Family : Sphyraenidae             Genus : Sphyraena

Species :  Sphyraena borealis

 

Nama lokal    :  –

Nama inggris :  Mediterania barracuda

Nama latin     :  Sphyraena Sphyraena

Ukuran           :  60 cm

Penyebaran    :  Pantai Atlantik dari Madeira dan Maroko utara ke Teluk Biscay juga seluruh Laut Mediterania dan Hitam.

Habitat          : Berasosiasi dengan karang

Makanan       : Ikan, udang dan cumi-cumi

Deskriptif Umum  : Memiliki tubuh memanjang, , rahang besar. Rahang bawah menonjol sedikit dari rahang atas. Preoperculum benar-benar tertutup oleh sisik, tepi posterior bulat.

Klasifikasi  :   Kingdom  :  Animalia             Phylum   :   Chordata

Class : Actinopterygii              Ordo    : Perciformes

Family : Sphyraenidae             Genus : Sphyraena

Species :  Sphyraena  Sphyraena

 

 

Nama lokal    :   –

Nama inggris :  Guachanche barracuda

Nama latin     :  sphyraena guachancho

Ukuran           :  200 cm

Penyebaran    :  Bagian barat Samudera Atlantik

Habitat          : Perairan pantai hingga kedalaman 100 m. [5] Mereka umumnya terjadi di dekat dasar berlumpur dan sering ditemukan di muara sungai

Makanan       :   ikan, udang dan cumi-cumi

Konsumsi      :  ikan segar dan asin

Deskriptif Umum  :  Memiliki tubuh memanjang, , rahang besar. Rahang bawah menonjol sedikit dari rahang atas. Memiliki enam duri punggung.

 

Klasifikasi  :   Kingdom  :  Animalia             Phylum   :   Chordata

Class : Actinopterygii              Ordo    : Perciformes

Family : Sphyraenidae             Genus : Sphyraena

Species :  Sphyraena

BUDIDAYA EUCHEUMA (rumput laut)

BUDIDAYA EUCHEUMA

Faktor – faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya rumput laut : pemilihan lokasi yang memenuhi persyaratan budidaya, penyediaan bibit yang baik dan cara pembibitan, metoda budidaya dan perawatan, panen, dan penyimpanan.

1. Pemilihan Lokasi Budidaya
Faktor utama menunjang keberhasilan budidaya rumput laut adalah pemilihan lokasi yang tepat. Pertumbuhan rumput laut sangat ditentukan oleh kondisi ekologi setempat. Penentuan suatu lokasi harus disesuaikan dengan metode budidaya yang akan digunakan. Penentuan lokasi yang salah berakibat fatal bagi usaha budidaya rumput laut, karena laut yang dinamis tidak dapat diprediksi.
Dalam pemilihan lokasi untuk budidaya rumput laut, perlu dipertimbangkan faktor resiko, kemudahan (aksesibilitas) dan faktor ekologis. Faktor tersebut saling berkaitan dan saling mendukung. Untuk memperoleh lokasi tang baik untuk budidaya, pemilihan perlu dilakukan di beberapa lokasi.
A. Faktor Resiko
a. Masalah Keterlindungan; Untuk menghindari kerusakan secara fisik sarana budidaya maupun rumput laut dari pengaruh angin dan gelombang yang besar, maka diperlukan lokasi yang terlindung. Lokasi yang terlindung biasanya didapatkan di perairan teluk atau perairan terbuka tetapi terlindung oleh adanya penghalang atau pulau di depannya.
b. Masalah Keamanan; Masalah pencurian dan perbuatan sabotase mungkin dapat dialami, sehingga upaya pendekatan kepada beberapa pemilik usaha lain atau menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar, perlu dilakukan.
c. Masalah Konflik Kepentingan.; Beberapa kegiatan perikanan (kegiatan penangkapan ikan, pengumpul ikan hias) dan kegiatan lain (pariwisata, perhubungan laut, industri, taman nasional laut) dapat berpengaruh terhadap aktivitas usaha rumput laut dan dapat mengganggu beberapa sarana rakit.

B. Faktor Kemudahan
Pemilik usaha budidaya rumput laut cenderung memilih lokasi yang berdekatan dengan tempat tinggal, sehingga kegiatan monitoring dan penjagaan keamanan dapat dilakukan dengan mudah. Kemudian lokasi diharapkan berdekatan dengan sarana jalan, karena akan mempermudah dalam pengangkutan bahan, sarana budidaya, bibit, dan hasil panen. Hal tersebut akan mengurangi biaya pengangkutan.
C. Faktor Ekologis
Parameter ekologis yang perlu diperhatikan antara lain : arus, kondisi dasar perairan, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran, dan ketersediaan bibit dan tenaga kerja yang terampil.
a. Arus; Rumput laut merupakan organisma yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Gerakan air yang cukup akan menghindari terkumpulnya kotoran pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi yang besar terhadap salinitas maupun suhu air. Suhu yang baik untuk pertumbuhan rumput laut berkisar 20 – 28o. Arus dapat disebabkan oleh arus pasang surut. Besarnya kecepatan arus yang baik antara : 20 – 40 cm/detik. Indikator suatu lokasi yang memiliki arus yang baik biasanya ditumbuhi karang lunak dan padang lamun yang bersih dari kotoran dan miring ke satu arah.
b. Kondisi Dasar Perairan; Perairan yang mempunyai dasar pecahan-pecahan karang dan pasir kasar, dipandang baik untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii. Kondisi dasar perairan yang demikian merupakan petunjuk adanya gerakan air yang baik, sedangkan bila dasar perairan yang terdiri dari karang yang keras, menunjukkan dasar itu terkena gelombang yang besar dan bila dasar perairan terdiri dari lumpur, menunjukkan gerakan air yang kurang.

c. Kedalaman Air; Kedalaman perairan yang baik untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii adalah 30 – 60 cm pada waktu surut terendah untuk (lokasi yang ber arus kencang) metoda lepas dasar, dan 2 – 15 m untuk metoda rakit apung, metode rawai (long-line) dan sistem jalur. Kondisi ini untuk menghindari rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari.
d. Salinitas; Eucheuma cotonii (sinonim: Kappaphycus alvarezii) adalah alga laut yang bersifat stenohaline, relatif tidak tahan terhadap perbedaan salinitas yang tinggi. Salinitas yang baik berkisar antara 28 – 35 ppt dengan nilai optimum adalah 33 ppt. Untuk memperoleh perairan dengan salinitas demikian perlu dihindari lokasi yang berdekatan dengan muara sungai.
e. Kecerahan; Rumput laut memerlukan cahaya matahari sebagai sumber energi guna pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangannya yang normal. Kecerahan perairan yang ideal lebih dari 1 (satu) m. Air yang keruh biasanya mengandung lumpur yang dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air, sehingga kotoran dapat menutupi permukaan thallus, yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.
f. Pencemaran; Lokasi yang telah tercemar oleh limbah rumah tangga, industri, maupun limbah kapal laut harus dihindari.
g. Ketersediaan Bibit; Lokasi yang terdapat stock alami rumput laut yang akan dibudidaya, merupakan petunjuk lokasi tersebut cocok untuk usaha rumput laut. Apabila tidak terdapat sumber bibit dapat memperolehnya dari lokasi lain. Pada lokasi dimana Eucheuma cottonii bisa tumbuh, biasanya terdapat pula jenis lain seperti Gracilaria dan Sargassum.
h. Tenaga Kerja; Dalam memilih tenaga kerja yang akan ditempatkan di lapangan sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan sekaligus menghemat biaya transportasi.

2. Penyediaan Bibit
Bibit sebaiknya dipilih dari tanaman yang masih segar yang dapat diperoleh dari tanaman rumput laut yang tumbuh secara alami maupun dari tanaman budidaya.
Penyediaannya segera dilakukan setelah konstruksi rakit kegiatan budidaya telah terpasang dan sumber bibit telah tersedia. Bibit yang digunakan berupa stek, harus baru, serta masih muda dan banyak cabang.

• Kriteria Bibit :
Dalam penyediaan bibit sebaiknya diseleksi bibit yang baik dari hasil panen dengan ciri-ciri : (a). Bercabang banyak, rimbun dan runcing (b). Tidak terdapat bercak dan terkelupas (c). Warna spesifik (cerah). (d). Umur 25 – 35 hari. Berat bibit yang ditanam adalah antara 50 – 100 gram per rumpun dan (e). Tidak terkena penyakit ice-ice.
• Penanganan Bibit :
Yang harus diperhatikan dalam membawa bibit agar tidak terjadi kerusakan selama dalam perjalanan adalah :
 Bibit harus tetap dalam keadaan basah/lembab selama dalam perjalanan
 Tidak terkena air tawar atau hujan
 Tidak terkena minyak atau kotoran-kotoran lain
 Jauh dari sumber panas seperti mesin kendaraan dan lainnya
 Tidak terkena sinar matahari.

Sedangkan ciri-ciri bibit yang tidak baik adalah :
 warna kemerahan
 Thallus berlendir
 Bau tidak enak/busuk
 Thallus rusak/patah-patah.
 Tidak ada bagain thallus yang transparan tidak berpigmen.

Cara pengepakan bibit :
 Kantong plastik lebar sesuai dengan potongan-potongan bibit yang akan dibawa
 Bibit rumput laut dimasukan ke dalam kantong plastik tanpa dipadatkan supaya bibit tidak rusak, kemudian diikat.
 Bagian atas kantong dilubangi dengan jarum untuk sirkulasi udara
 Kantong plastik dimasukkan ke dalam kotak karton

Setelah sampai di tujuan, bibit harus segera dibuka dan direndam dalam air laut yang diberi aerasi kemudian diseleksi selanjutnya siap dilakukan penanaman.

3. Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma sp
Budidaya Eucheuma dapat dilakukan dengan 5 (lima) metode yaitu : metoda lepas dasar, metoda rakit apung, metode long line (rawai), metode jalur (kombinasi), dan metode kantong jaring.
a. Metoda Lepas Dasar
Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur. Hal ini penting untuk memudahkan penancapan patok/pacang. Penancapan patok akan sulit dilakukan bila dasar perairan terdiri dari batu karang. Patok terbuat dari kayu yang berdiameter sekitar 5 cm sepanjang 1 m yang salah satu ujungnya runcing. Jarak antara patok untuk merentangkan tali ris sekitar 2,5 m. Setiap patok dipasang berjajar dan dihubungkan dengan tali ris polyethylen(PE) berdiameter 8 mm. Jarak antara tali rentang sekitar 20 cm. Tali ris yang telah berisi ikatan tanaman direntangkan pada tali ris utama dan posisi tanaman budidaya berada sekitar 30 cm diatas dasar perairan (perkirakan pada saat surut terendah masih tetap terendam air).
Metode lepas dasar biasanya berukuran 100 m x 5m. Luasan ini membutuhkan bahan-bahan sebanyak :
 Patok kayu : panjang 1 m (diameter 5 cm) sebanyak 275 buah
 Tali rentang : bahan PE (diameter 3,5 – 4 mm) sebanyak 10 kg
 Tali ris : bahan PE (diameter 8 mm) sebanyak 15 kg
 Tali PE (diameter 1-2 mm) sebanyak 1 kg
 Bibit rumput laut sebanyak 1.000 kg (ukuran bibit biasanya 50-100 gram/titik)

b. Metode Rakit Apung
Metode rakit apung adalah cara pembudidayaan rumput laut dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu/kayu. Metode ini cocok diterapkan pada perairan berkarang dengan pergerakan airnya didominasi oleh ombak. Ukuran tiap rakit sangat bervariasi bergantung pada ketersediaan material dan disesuaikan dengan kondisi perairan tetapi pada prinsipnya tidak terlalu besar sehingga mempermudah perawatan rumput laut yang ditanam. Metoda rakit apung cocok dilakukan pada kedalaman lebih dari 2 meter.
Untuk menahan agar rakit tidak hanyut terbawa oleh arus digunakan jangkar atau patok dengan tali penahan (rope) yang berukuran 9 mm. Untuk menghemat areal dan memudahkan pemeliharaan, beberapa rakit dapat dijadikan satu dan tiap rakit diberi jarak sekitar 1 meter.

Keuntungan pemeliharaan dengan metode ini adalah antara lain pemeliharaan mudah dilakukan, tanaman terbebas dari gangguan hama, pemilihan lokasi lebih fleksibel dan intensitas cahaya matahari lebih besar. Kelemahan dari metode ini adalah biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan sarana budidaya relatif tinggi, tanaman sering muncul kepermukaan air terutama saat laut kurang berombak sehingga dapat menyebabkan cabang-cabang tanaman menjadi pucat karena kehilangan pigmen dan akhirnya akan mati.
Untuk pemeliharan yang efektif dan efisien, umumnya 1 unit usaha terdiri dari 20 rakit yang masing-masing rakit berukuran 5 m x 2,5 m. Satu rakit terdiri dari 24 tali dengan jarak antara masing-masing tali 20-25 cm. Setiap tali dapat diikatkan 9 rumpun tanaman, jarak antara rumpun yang satu dengan yang lainnya adalah 25 cm, sehingga dalam satu rakit akan terdiri dari 300 rumpun dengan berat rata-rata per rumpun 100 gram atau dibutuhkan bibit sebanyak 30 kg . Pertumbuhan tanaman dengan menggunakan metode apung, umumnya lebih baik daripada metode lepas dasar, karena pergerakan air dan intensitas cahaya lebih baik bagi pertumbuhan rumput laut.

Sarana dan peralatan yang diperlukan untuk 1 unit usaha budidaya rumput laut berukuran 5 m x 2,5 m adalah sebagai berikut :
 bambu sebanyak 80 batang
 tali rakit PE berdiameter 10 mm sebanyak 6 kg
 tali rentang PE (diameter 3,5 mm – 4 mm) sebanyak 33 kg
 jangkar 4 buah
 tali D15 60 gulung
 tempat penjemuran 1.2 m x 10 m
 peralatan budidaya (keranjang, pisau, gergaji, dan parang)
 perahu jukung, sebanyak 1 unit,
 bibit rumput laut sebanyak 600 kg.

c. Metode Rawai (Long Line)
Metode rawai (long line) adalah metode budidaya dengan menggunakan tali panjang yang dibentangkan. Metode budidaya ini banyak diminati oleh masyarakat karena alat dan bahan yang digunakan lebih tahan lama, lebih murah dan mudah untuk didapat. Tali (diameter 8 mm) yang digunakan sepanjang 50 – 100 meter yang pada kedua ujungnya diberi jangkar dan pelampung besar, kemudian setiap 25 meter diberi pelampung utama yang dapat terbuat dari drum plastik atau styrofoam kemudian pada setiap jarak 5 meterdiberi pelam-pung yaitu berupa potongan styrofoam/ karet sandal atau botol aqua bekas 500 ml yang berfungsi untuk memudahkan pergerakan tanaman setiap saat.
Sewaktu memasang tali utama harus diperhatikan arah arus pada posisi sejajar atau sedikit menyudut untuk menghindari terjadinya belitan tali satu dengan lainnya. Bibit rumput laut seberat 100 gram diikatkan sepanjang tali dengan jarak titik 20-25 cm. Antara tali satu dengan lainnya berjarak antara 1-3 m dengan mempertimbangkan kondisi arus dan gelombang setempat.

Jarak antar blok selebar 1 m (dalam satu blok terdapat 4 tali) yang berfungsi untuk jalur sampan pengontrolan (jika dibutuh-kan). Untuk satu hektar hamparan dapat dipasang 142 tali, @ 500 titik atau diperoleh 71.000 titik. Dengan berat bibit awal 100 gram maka untuk 1 ha areal dibutuhkan bibit 7.100 kg .
Panen dilakukan setelah rumput laut berumur lebih kurang 45 hari. Bila 100 gram bibit dapat mengasilkan 1 kg, maka panen diperkirakan dapat mencapai 71.000 kg per ha. Bibit untuk penanaman berikutnya dapat diambil dari seleksi hasil panen sebanyak 10%-nya atau sebanyak 7.100 kg, sehingga hasil panen yang dikeringkan sebanyak 62.900 kg basah atau 7.800 kg kering (dengan konversi 1 : 8).
Sarana dan peralatan yang diperlukan untuk 1 unit usaha budidaya rumput laut dengan metode long-line adalah sebagai berikut:
Bahan dan alat utama :
 Tali titik (ukuran 0,4 cm) sebanyak 10 kg
 Tali jangkar (diameter 10 mm) sebanyak 50 kg
 Tali jangkar sudut (diameter 6 mm) sebanyak 10 kg
 Jangkar tancap dari kayu (diameter 50 mm) sebanyak 104 buah
 Pelampung styrofoam sebanyak 60 kg
 Pelampung botol aqua/karet sandal secukupnya

Sarana penunjang :
 Perahu sampan sebanyak 1 buah
 Timbangan seberat 100 kg
 Waring 50 m3
 Para-para penjemuran dari kayu/bambu (ukuran 6 m x 8 m) sebanyak 3 unit
 Pisau kerja 5 buah
 Masker/snorkel 1 buah
 Karung plastik (ukuran 50 kg) sebanyak 1000 lembar

d. Metode Jalur (Kombinasi)
Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dan metode long line. Kerangka metode ini terbuat dari bambu yang disusun sejajar. Pada kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali PE 0,6 mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5 m x 7 m perpetak. Satu unit terdiri dari 7 – 10 petak. Pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar seberat 100 kg. Penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur yang telah dilengkapi tali PE 0,1 cm sebagai pengikat bibit rumput laut. Setelah bibit diikat kemudian tali jalur tersebut dipasang pada kerangka yang telah tersedia dengan jarak tanam yang digunakan minimal 20 cm x 30 cm.

e. Metode Keranjang (kantong jaring)
Metode keranjang adalah metode budidaya rumput laut dengan menggunakan kantong jaring sebagai alat produksi. Kantong jaring tersebut diikatkan pada lali (long line) atau pada rakit. Metode ini digunakan untuk mengatasi serangan ikan dan penyu.
Dalam metode ini digunakan kantong jaring dengan ukuran 1 – 1.5 inchi yang terbuat dari tali PE ukuran D18-21. kantong memiliki ukuran diameter 30 – 50 cm dan tinggi 50 – 75 cm dan ditunjang oleh rangka kawat. Kantong digantungkan pada tali atuu rakit dengan jarak 50 – 100 cm antara kantong.
Persyaratan lokasi metode ini adalah arus harus lebih kuat (25 – 40 cm/detik) sehingga sirkulasi air cukup baik. Kecepatan arus yang kurang baik akan mengakibatkan rumput laut mati dan membusuk karena kurang oksigen dan nutrien.
Beberapa pengalamn menggunakan metode ini adalah sbb: a) biomas pada saat awal penanaman 0.5 kg ; b) lama pemeliharaan 45 – 60 hari ; c) biomas akhir 7 – 10 kali biomas awal (dapat mencapai 5 kg/kantong). Bahan dan peralatan yang diperlukan dalam metode ini adalah :
 Kantong jaring
 Tambang utama (12 mm)
 Tambang ris (10 mm)
 Tambang jangkar (20 mm)
 Jangkar
 Pelampung utama (V : 10 L)
 Pelampung antara (V : 1 – 5 L)

Selain sarana utama, metode ini membutuhkan sarana penunjang seperti pada metode lainnya.

4. Perawatan
Keberhasilan suatu usaha rumput laut sangat tergantung pada perawatan. Perawatan harus dilakukan setiap hari untuk membersihkan tanaman dari tumbuhan pengganggu dan menyulam tanaman yang mati dan terlepas. Khusus untuk kegiatan penyulaman hanya dilakukan pada minggu pertama setelah rumput laut ditanam.
Monitoring pertumbuhan rumput laut perlu dilakukan beberapa kali dengan cara sampling. Berat awal bibit berkisar antara 50 – 100 gram. Sampling pertma dilakukan setelah tanaman berumur 21 hari. Sedangkan sampling ke dua dilakukan pada saat panen . Penentuan sampel dilakukan secara acak. Suatu kegiatan budidaya rumput laut Euceuma Cottonii dikatakan baik jika laju pertumbuhan rata-rata harian minimal 3 %. Untuk mengetahui persentase laju pertumbuhan harian dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan : G = Laju pertumbuhan harian (% )
Wt = Bobot rata-rata akhir (gram)
W0 = Bobot rata-rata awal (gram)
t = Waktu pengujian

praktek oseonografi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pantai adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut terendah (Bambang Triatmojo, “Teknik Pantai”). Garis pantai adalah garis batas pertemuan antara daratan dan air laut, dimana posisinya tidak tetap dan dapat berubah sesuai dengan pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi. Perubahan garis pantai disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor manusia. Faktor alam diantaranya gelombang laut, arus laut, angin, sedimentasi sungai, kondisi tumbuhan pantai serta aktivitas tektonik dan vulkanik. Sedangkan faktor manusia antara lain pembangunan pelabuhan dan fasilitas-fasilitasnya (misalnya breakwater), pertambangan, pengerukan, perusakan vegetasi pantai, pertambakan, perlindungan pantai serta reklamasi pantai. Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian sehingga mampu menghancurkan energi gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk tersebut merupakan tanggapan dinamis alami terhadap laut. Proses dinamis pantai sangat dipengaruhi oleh littoral transport, yang didefinisikan sebagai gerak sedimen di daerah dekat pantai (nearshore zone) oleh gelombang dan arus. Littoral transport dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu transpor sepanjang pantai (longshore transport) dan transpor tegak lurus pantai (onshore-offshore transport). Material pasir yang ditranspor disebut dengan littoral drift. Transpor tegak lurus pantai terutama ditentukan oleh kemiringan gelombang, ukuran sedimen dan kemiringan pantai. Pada umumnya gelombang dengan kemiringan besar menggerakkan material kearah laut (abrasi), dan gelombang kecil dengan periode panjang menggerakkan material kearah darat (akresi).

1.2 Tujuan
􀂾 Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui cara mengukur tinggi, panjang, periode suatu gelombang.
2. Mengetahui cara mengukur suhu, salinitas, dan kecerahan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Suhu air
Suhu air merupakan salah satu parameter fisika yang perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi pada laju metabolisme ikan seperti pertumbuhan, perkembangbiakkan, pernapasan, denyut jantung, kegiatan enzim dan proses fisiologis lainnya pada ikan. Keadaan ini akan terlihat pada pemeliharaan ikan dengan suhu rendah dapat menyebabkan pertumbuhan ikan lambat bahkan terhenti.
Selain itu suhu juga akan mempengaruhi kadar oksigen yang terlarut dalam air dan daya racun suatu bahan pencemar.
Semakin tinggi suhu suatu perairan semakin sedikit oksigen terlarut di dalamnya sedangkan kebutuhan oksigen setiap kenaikan suhu 10ºC, ikan naik hampir dua kali lipat akan kebutuhan oksigennya. Contoh lain yakni daya racun potasium sianida terhadap ikan akan naik dua kali lipat setiap kenaikkan suhu 10ºC. Hal ini sesuai hukum Van Hoff bahwa untuk setiap perubahan kimia, kecepatan reaksinya naik dua sampai tiga kali lipat setiap kenaikkan suhu sebesar 10º C. thermometer digunakan sebagai alat untuk pengukuran suhu air dengan skala 110 oC.
Setiap organisme mempunyai persyaratan suhu maksimum, optimum dan minimum untuk hidupnya serta mempunyai kemampuan menyesuaikan diri sampai suhu tertentu. Secara naluri ikan mempunyai toleransi yang rendah terhadap perubahan suhu. Suhu yang baik untuk pemeliharaan ikan berkisar antara 25 – 31º C.

Adapun hasil lapangan yang kami dapatkan dari praktek kemaren adalah:
Permukaan
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 30 30 30
2 30 29 30
3 30 29 30

Dasar
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 29 29 29
2 29 28 29
3 29 29 29

Adapun alat yang kami gunakan, bisa di lihat pada gambar bawah ini :

Gambar : Termometer

2.2. Salinitas
Salinitas ditentukan berdasarkan banyaknya garam-garam yang terlarut dalam air. Salinitas dipengaruhi oleh curah hujan dan penguapan (evaporasi) yang terjadi suatu daerah.
Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar .(Euryhaline).
Golongan ikan laut merupakan golongan Ctenohaline yang hanya mampu hidup di perairan dengan salinitas > 30 o/oo . Umumnya salinitas air laut relatif stabil kecuali pada muara-muara sungai dimana tempat pertemuan air tawar dan air laut.

Adapun hasil yang kami dapati di lapangan yaitu :
Permukaan
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 35 35 35
2 35 35 35
3 35 35 35

Dasar
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 33 33 33
2 33 33 33
3 33 33 33

Kita lakukan 1 kali ulangan karena alat yang kita gunakan terbatas sehingga hasil yang kami dapatkan pun terbatas.

Adapun alat yang kita gunakan dapat dilihat pada gambar bawah ini

Gambar : Refractometer

B

2.3. Gelombang

Gelombang adalah suatu pergerakan air yang dihasilkan oleh hembusan angin sehingga membentuk kumpulan air yang berjalan menuju bibir pantai, dan untuk mengetahui ketinggian, panjang gelombang ketinggian gelombang, periode gelombang,dan kami mengadakan praktek mengukur ketinggian gelombang dengan menggunakan alat meteran yang terbuat dari kayu dan kami tancapkan pada dasar laut dan pada tiga titik lokasi yang berbeda dan berikut hasil data yang kami peroleh dari tiga titik lokasi tersebut adalah

Tinggi gelombang
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 129 150 135
2 120 125 160
3 130 120 140
Rata-rata = 14,92593

Panjang gelombang
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 76 86 79
2 72 80 81
3 75 83 77
Rata-rata = 8,753086

Periode gelombang
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 02:22 02: 52 02:22
2 01:58 02:08 02:45
3 02:20 02:15 02:25
Rata-rata = 0:15

2.4. Kecerahan
Besarnya cahaya matahari langsung yang jatuh pada suatu tempat tergantung pada musim, letak geografis, waktu, sudut jatuh, tinggi tempat dari permukaan laut dan keadaan atmosfer. Cahaya yang jatuh pada permukaan air sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi masuk kedalam air. Cahaya yang masuk inilah yang akan menentukan kecerahan suatu perairan. Cahaya yang masuk dalam air akan mengalami pembiasan sehingga kecepatannya cepat menurun kemudian menghilang pada kedalaman tertentu. Cahaya matahari pada posisi titik kulminasi (jam 12:00 siang) hanya dapat menembus kedalaman air jernih sampai 100 m.
Kecerahan air sangat dipengaruhi oleh kondisi air seperti adanya kekeruhan, kekentalan, warna dan gelombang permukaan air. Semakin tinggi tingkat kekeruhan air semakin dangkal cahaya yang dapat menembus air (penetrasi cahaya). Demikian pula semakin kental dan bergelombang semakin pendek daya tembus cahaya dalam air. Oleh karena itu terjadi hubungan terbalik antara kecerahan dengan kekeruhan, kekentalan dan gelombang permukaan air.
Kecerahan yang baik untuk kehidupan ikan adalah kecerahan dengan jumlah cahaya matahari yang masuk optimal sehingga proses fotosintesa dapat berjalan seimbang dan jumlah fitoplankton yang memadai untuk makanan ikan. Kisaran kecerahan perairan untuk kehidupan ikan adalah 25 – 40 cm untuk air tawar dan 7 – 12 m untuk air laut. Alat untuk mengukur kecerahan disebut dengan sechi disk.

Adapun data yang kami dapatkan dilapangan adalah:
Tampak hilang
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 75 80 85
2 76 81 84
3 75 83 83

Tampak muncul
Ulangan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 72 78 84
2 75 79 83
3 74 82 81

Adapun alat yang kami gunakan dapat dilihat pada gambar bawah ini :

C

Gambar : sechi disk

LAMPIRAN

D
Gambar 1. Persiapan

E
Gambar 2. Persiapan melakukan pengukura gelombang

F
Gambar 3. Persiapan melakukan pengukuran kecerahan

G
Gambar 4. Proses pengukuran gelombang
H
Gambar 5. Proses pengukuran salinitas

CATATAN
Gambar 6. Proses pencatatan

Kenangan di perikanan
Gambar 7. Selesai melakukan peraktek

penampakan ikan tak segar dan ikan segar

ikan tak segar
Foto1632 Foto1645 Foto1643

ikan segar

klasifikasi ikan mujair

Ikan Mujair adalah sejenis ikan air tawar yang biasa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan ini adalah perairan Afrika dan di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Pak Mujair di muara Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939. Meski masih menjadi misteri, bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan Blitar, tak urung ikan tersebut dinamai ‘mujair’ untuk mengenang sang penemu.
Nama ilmiahnya adalah Oreochromis mossambicus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Mozambique tilapia, atau kadang-kadang secara tidak tepat disebut “Java tilapia”.

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. mossambicus

Anatomi dan Morfologi Ikan Lele

Anatomi dan Morfologi Ikan Lele

Ikan lele secara umum memiliki tubuh yang licin, berlendir, tidak bersisik dan bersungut atau berkumis. Secara anatomi dan morfologi lele terbagi menjadi 3 bagian.

  1.             Kepala (cepal). Lele memiliki kepala yang panjang, hampir mencapai seperempat dari panjang tubuhnya. Kepala lele pipih ke bawah (depressed). Bagian atas dan bawah kepalanya tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang.Di ruangan inilah terdapat alat pernapasan tambahan lele berupa labirin. Mulut lele terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi 4 sungut (kumis). Mulut lele dilengkapi gigi, gigi nyata, atau hanya berupa permukaan kasar di mulut bagian depan. Lele juga memiliki empat pasang sungut yang terletak di sekitar mulut. Sepasang sungut hidung, sepasang sungut mandibular luar, sepasang sungut mandibular dalam, dan sepasang sungut maxilar. Ikan ini mempunyai alat olfaktori di dekat sungut yang berfungsi untuk perabaan dan penciuman serta penglihatan lele yang kurang berfungsi baik. Mata lele berbentuk kecil dengan tepi orbital yang bebas. Matanya latero-lateral atau di permukaan dorsal tubuh yang dapat mengenali warna. Untuk memfokuskan pandangan, lensa mata dapat bergerak keluar-masuk. Ikan lele memiliki sepasang lubang hidung (nostrils) yang terdapat pada bagian anterior. Nostrils tersebut berfungsi mendeteksi bau dan sangat sensitif.
  1.             Badan (abdomen). Ikan lele mempunyai bentuk badan yang berbeda dengan jenis ikan lainnya, seperti tawes, mas, ataupun gurami. Ikan lele mempunyai bentuk tubuh memanjang, agak bulat, dan tidak bersisik. Warna tubuhnya kelabu sampai hitam. Badan lele pada bagian tengahnya mempunyai potongan membulat. Sementara itu, bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih ke samping (compressed). Dengan demikian, ada tiga bentuk potongan melintang pada ikan lele, yaitu pipih ke bawah, bulat, dan pipih ke samping.
  1.             Ekor (caudal). Sirip ekor lele membulat dan tidak bergabung dengan sirip punggung maupun sirip anal. Sirip ekor berfungsi untuk bergerak maju. Sementara itu, sirip perut membulat danpanjangnya mencapai sirip anal. Sirip dada lele dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil. Selain untuk membela diri dari pengaruh luar yang mengganggunya, patil ini juga digunakan ikan lele untuk melompat keluar dari air dan melarikan diri. Dengan menggunakan patil, lele dapat berjalan di darat tanpa air cukup lama dan cukup jauh.

 

602961_592083934150783_1570981889_n  

  Gambar 1

Proses pembedahan lele

 

  184483_592116410814202_1067384508_n

Gambar 2

setelah dibedah

217830_592089790816864_186281168_n

Gambar 3

hasil setelah diteliti

sejarah perikanan

Salah satu sejarah perdagangan dunia yang tertua yaitu perdagangan ikan cod kering dari daerah Lofoten ke bagian selatan Eropa, Italia, Spanyol dan Portugal. Perdagangan ikan ini dimulai pada periode Viking atau sebelumnya, yang telah berlangsung lebih dari 1000 tahun, namun masih merupakan jenis perdagangan yang penting hingga sekarang.
Di India, Pandyas, kerajaan Tamil Dravidian tertua, dikenal dengan tempat perikanan mutiara diambil sejak satu abad sebelum masehi. Pelabuhan Tuticorin dikenal dengan perikanan mutiara laut dalam. Paravas, bangsa Tamil yang berpusat di Tuticorin, berkembang menjadi masyarakat yang makmur oleh karena perdagangan mutiara mereka, pengetahuan ilmu pelayaran dan perikanan.